Kapan Sebaiknya Melakukan Pemeriksaan Infeksi Menular Seksual?
Infeksi menular seksual (IMS) tidak selalu menimbulkan gejala. Seseorang dapat terlihat sehat dan tidak merasakan keluhan, tetapi tetap mengalami infeksi dan berpotensi menularkannya kepada pasangan.
Karena itu, pemeriksaan IMS tidak selalu harus menunggu sampai muncul gejala. Waktu pemeriksaan dapat berbeda pada setiap orang, tergantung pada riwayat seksual, jenis paparan, usia, kondisi kesehatan, kehamilan, serta faktor risiko lainnya.
Pemeriksaan yang tepat dapat membantu mengetahui kondisi kesehatan seksual dan menentukan apakah diperlukan penanganan lebih lanjut.
Mengapa Pemeriksaan IMS Penting?
Sebagian besar IMS dapat berlangsung tanpa gejala atau hanya menyebabkan keluhan ringan. WHO juga menekankan bahwa infeksi tanpa gejala masih menjadi tantangan dalam pengendalian IMS, termasuk pada lokasi seperti tenggorokan dan rektum.
Jika tidak diketahui, infeksi tertentu dapat terus berlangsung dan berpotensi ditularkan kepada pasangan. Beberapa IMS yang tidak ditangani juga dapat menyebabkan komplikasi pada kesehatan reproduksi dan kehamilan, tergantung jenis infeksinya.
Pemeriksaan membantu mendeteksi infeksi yang mungkin tidak dapat dikenali hanya berdasarkan kondisi fisik atau gejala.
Kapan Sebaiknya Melakukan Pemeriksaan IMS?
Tidak ada satu waktu pemeriksaan yang berlaku untuk semua orang. Namun, terdapat beberapa kondisi yang menjadi alasan untuk mempertimbangkan konsultasi dan pemeriksaan.
1. Saat Muncul Gejala yang Tidak Biasa
Pemeriksaan sebaiknya dipertimbangkan ketika muncul keluhan yang dapat berkaitan dengan IMS, seperti:
- Cairan yang tidak biasa dari vagina atau penis.
- Nyeri atau rasa terbakar ketika buang air kecil.
- Luka atau lepuhan pada area genital.
- Benjolan atau kutil di sekitar genital.
- Gatal atau iritasi pada area genital.
- Perdarahan vagina yang tidak biasa.
- Nyeri pada perut bagian bawah.
- Nyeri atau pembengkakan pada testis.
- Keluhan pada area anus seperti nyeri, cairan, atau perdarahan.
Gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang mengalami IMS karena kondisi lain juga dapat menyebabkan keluhan serupa. Pemeriksaan diperlukan untuk membantu mengetahui penyebabnya.
2. Setelah Mengetahui Pasangan Mengalami IMS
Jika pasangan seksual diketahui mendapatkan diagnosis IMS, jangan hanya menunggu munculnya gejala.
Beberapa IMS dapat tidak menimbulkan keluhan sehingga seseorang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. WHO juga memasukkan pengelolaan pasangan sebagai bagian penting dalam penanganan IMS untuk membantu mencegah penularan dan infeksi ulang.
Dalam kondisi tersebut, konsultasikan kepada tenaga kesehatan mengenai apakah Anda memerlukan pemeriksaan dan jenis tes yang sesuai.
3. Setelah Hubungan Seksual yang Berisiko
Jika Anda merasa memiliki risiko terpapar IMS setelah melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan atau kondisi lain yang membuat Anda khawatir, konsultasi dapat dilakukan untuk menentukan langkah berikutnya.
Jenis pemeriksaan dan waktu pelaksanaannya dapat berbeda tergantung infeksi yang dicurigai dan waktu terjadinya paparan. Karena itu, jangan menentukan jadwal pemeriksaan hanya berdasarkan informasi umum di internet.
Sampaikan kapan paparan terjadi dan jenis kontak seksual yang dilakukan kepada tenaga kesehatan agar pemeriksaan dapat dipertimbangkan secara tepat.
4. Meskipun Tidak Mengalami Gejala
Pemeriksaan IMS juga dapat dilakukan pada kondisi tertentu meskipun tidak terdapat keluhan.
Hal ini penting karena banyak IMS tidak menimbulkan gejala. CDC menjelaskan bahwa keputusan mengenai jenis dan frekuensi pemeriksaan dipengaruhi oleh usia, lokasi tempat tinggal, riwayat seksual, praktik seksual, serta ada atau tidaknya gejala.
Jadi, merasa sehat tidak selalu berarti tidak membutuhkan pemeriksaan.
5. Ketika Memiliki Pasangan Seksual Baru
Memiliki pasangan seksual baru dapat menjadi salah satu alasan untuk mendiskusikan pemeriksaan IMS dengan tenaga kesehatan, terutama jika terdapat faktor risiko tertentu.
Pemeriksaan dapat membantu seseorang mengetahui kondisi kesehatannya sebelum atau selama menjalani hubungan dengan pasangan baru.
Namun, jenis pemeriksaan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
6. Jika Memiliki Riwayat IMS Sebelumnya
Seseorang yang pernah mengalami IMS dapat memiliki risiko mengalami infeksi kembali.
Karena itu, riwayat IMS perlu disampaikan ketika berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pemeriksaan ulang atau skrining tertentu mungkin diperlukan sesuai jenis infeksi, pengobatan sebelumnya, dan faktor risiko yang masih ada.
Jangan menganggap bahwa pernah mendapatkan pengobatan berarti tidak mungkin mengalami infeksi kembali.
7. Saat Sedang Hamil
Kehamilan merupakan kondisi khusus yang memerlukan perhatian terhadap pemeriksaan infeksi tertentu.
CDC merekomendasikan pemeriksaan pada awal kehamilan untuk beberapa infeksi, termasuk sifilis, HIV, hepatitis B, dan hepatitis C. Pada kondisi tertentu, pemeriksaan klamidia dan gonore serta pemeriksaan ulang dapat diperlukan berdasarkan usia dan faktor risiko.
Pemeriksaan selama kehamilan penting karena beberapa IMS dapat berdampak pada kesehatan ibu dan bayi.
Karena kebutuhan pemeriksaan dapat berbeda, ibu hamil sebaiknya mengikuti rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan yang menangani kehamilan.
Apakah Pemeriksaan IMS Harus Menunggu Gejala?
Tidak.
Justru salah satu alasan pemeriksaan penting adalah karena IMS sering kali tidak menimbulkan gejala. WHO pada 2025 menerbitkan panduan khusus mengenai pengelolaan IMS tanpa gejala dan menekankan pentingnya pendekatan pemeriksaan yang disesuaikan dengan populasi serta kondisi setempat.
Namun, bukan berarti setiap orang harus melakukan semua jenis tes IMS secara rutin.
Pemeriksaan perlu disesuaikan dengan kondisi dan faktor risiko masing-masing.
Seberapa Sering Pemeriksaan IMS Perlu Dilakukan?
Frekuensi pemeriksaan tidak sama untuk semua orang.
Sebagai contoh, CDC memberikan rekomendasi pemeriksaan tertentu berdasarkan usia, jenis kelamin, kehamilan, praktik seksual, dan faktor risiko. Pada kelompok tertentu, pemeriksaan dapat dilakukan setiap tahun atau lebih sering jika risiko infeksi lebih tinggi.
Misalnya, CDC merekomendasikan pemeriksaan klamidia dan gonore setiap tahun untuk wanita yang aktif secara seksual dan berusia di bawah 25 tahun. Pada wanita berusia 25 tahun atau lebih, pemeriksaan tahunan dapat dipertimbangkan jika terdapat faktor risiko seperti pasangan baru atau pasangan yang memiliki IMS.
Untuk kelompok tertentu, seperti pria yang berhubungan seksual dengan pria, frekuensi pemeriksaan dapat lebih sering berdasarkan tingkat risiko.
Karena rekomendasi dapat berbeda menurut kondisi individu, konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap diperlukan.
Pemeriksaan HIV Juga Penting
HIV merupakan salah satu infeksi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual.
CDC saat ini merekomendasikan setiap orang berusia 13–64 tahun melakukan pemeriksaan HIV setidaknya satu kali, sementara orang dengan faktor risiko tertentu mungkin membutuhkan pemeriksaan lebih sering.
Pemeriksaan HIV menjadi penting karena seseorang dapat tidak mengetahui bahwa dirinya mengalami infeksi hanya berdasarkan gejala.
Mengetahui status HIV membantu seseorang mengambil langkah yang sesuai untuk kesehatan dirinya dan pasangannya.
Apa Saja Pemeriksaan yang Dapat Dilakukan?
Tidak semua pemeriksaan IMS dilakukan dengan cara yang sama.
Tergantung jenis infeksi dan kondisi seseorang, pemeriksaan dapat menggunakan:
Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah dapat digunakan untuk mendeteksi beberapa infeksi, seperti HIV dan sifilis.
Pemeriksaan Urine
Urine dapat digunakan untuk pemeriksaan beberapa infeksi, termasuk klamidia dan gonore, sesuai jenis tes yang tersedia.
Pemeriksaan Swab
Sampel swab dapat diambil dari lokasi tertentu, misalnya vagina, tenggorokan, atau rektum.
Lokasi pengambilan sampel dapat dipertimbangkan berdasarkan jenis kontak seksual dan kemungkinan lokasi infeksi.
Tidak semua orang membutuhkan seluruh pemeriksaan tersebut. Dokter atau tenaga kesehatan akan membantu menentukan jenis tes yang sesuai.
Apakah Pemeriksaan IMS Bisa Dilakukan Jika Tidak Ada Keluhan?
Bisa.
Pemeriksaan tanpa gejala dikenal sebagai bagian dari skrining pada kondisi atau kelompok tertentu. WHO merekomendasikan pendekatan skrining yang disesuaikan dengan prevalensi infeksi, populasi, serta ketersediaan sumber daya.
Dengan demikian, keputusan untuk melakukan pemeriksaan sebaiknya tidak hanya berdasarkan ada atau tidaknya gejala.
Riwayat seksual, faktor risiko, kehamilan, serta kondisi pasangan dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan apakah pemeriksaan diperlukan.
Apa yang Perlu Disampaikan Saat Konsultasi?
Agar dokter dapat membantu menentukan pemeriksaan yang sesuai, sampaikan informasi yang relevan secara terbuka.
Beberapa hal yang dapat ditanyakan atau disampaikan antara lain:
- Keluhan yang sedang dialami.
- Kapan gejala mulai muncul.
- Kapan kemungkinan paparan terjadi.
- Apakah memiliki pasangan seksual baru.
- Apakah pasangan diketahui mengalami IMS.
- Jenis kontak seksual yang dilakukan.
- Riwayat IMS sebelumnya.
- Penggunaan kondom.
- Kondisi kehamilan jika sedang hamil.
- Pemeriksaan atau pengobatan IMS yang pernah dilakukan.
Informasi tersebut membantu tenaga kesehatan menentukan pemeriksaan yang sesuai dengan kondisi Anda. CDC juga menganjurkan komunikasi terbuka dengan tenaga kesehatan mengenai riwayat seksual dan kebutuhan pemeriksaan IMS.
Jangan Menunda Pemeriksaan Jika Ada Keluhan
Jika terdapat gejala yang mengarah pada IMS, sebaiknya jangan menunggu sampai keluhan semakin berat.
Beberapa gejala mungkin disebabkan oleh kondisi yang tidak berbahaya, tetapi sebagian lainnya membutuhkan pemeriksaan dan penanganan medis.
Jangan mencoba memastikan diagnosis hanya berdasarkan bentuk luka, warna cairan, rasa gatal, atau informasi dari internet. Pemeriksaan medis dapat membantu membedakan IMS dengan kondisi lain yang memiliki gejala serupa.
Cara Mengurangi Risiko Infeksi Menular Seksual
Selain pemeriksaan, pencegahan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan seksual.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Menggunakan kondom dengan benar dan konsisten.
- Melakukan pemeriksaan sesuai kondisi dan faktor risiko.
- Melakukan vaksinasi yang tersedia, seperti vaksin HPV dan hepatitis B.
- Tidak mengabaikan gejala pada area genital.
- Mengikuti pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan jika terdiagnosis IMS.
- Mengikuti anjuran pemeriksaan atau penanganan pasangan jika diperlukan.
Penggunaan kondom dapat membantu mengurangi risiko penularan berbagai IMS, meskipun perlindungannya tidak sama terhadap semua jenis infeksi.
Pemeriksaan Infeksi Menular Seksual di Semarang
Jika Anda memiliki keluhan atau merasa memiliki risiko terpapar infeksi menular seksual, tidak perlu menunggu sampai gejala menjadi berat untuk berkonsultasi.
Klinik Alunan Bunda di Semarang dapat menjadi tempat untuk berkonsultasi mengenai keluhan kesehatan yang Anda alami. Sampaikan kondisi dan riwayat yang relevan kepada tenaga kesehatan agar dapat dilakukan evaluasi sesuai kebutuhan.
Untuk mendapatkan informasi mengenai konsultasi dan layanan yang tersedia, Anda dapat menghubungi:
Klinik Alunan Bunda
Ruko Arthamas No. 12V, Jl. Supriyadi, Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah
WhatsApp: 0821-6444-2190
Jika Anda tidak mengalami gejala tetapi memiliki kekhawatiran mengenai kemungkinan IMS, Anda juga dapat berkonsultasi untuk mengetahui apakah pemeriksaan diperlukan dan jenis pemeriksaan apa yang sesuai.
FAQ Kapan Sebaiknya Melakukan Pemeriksaan IMS?
Kapan waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan IMS?
Waktu pemeriksaan bergantung pada jenis infeksi, waktu paparan, gejala, dan faktor risiko. Pemeriksaan sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan agar jenis dan waktunya sesuai dengan kondisi masing-masing.
Apakah harus melakukan pemeriksaan jika tidak ada gejala?
Tidak semua orang tanpa gejala memerlukan pemeriksaan yang sama. Namun, pemeriksaan dapat direkomendasikan pada kondisi atau kelompok tertentu karena banyak IMS dapat berlangsung tanpa gejala.
Apakah perlu periksa jika pasangan terkena IMS?
Sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pasangan seksual dari seseorang yang didiagnosis IMS mungkin memerlukan evaluasi, pemeriksaan, atau penanganan sesuai jenis infeksinya.
Apakah ibu hamil perlu pemeriksaan IMS?
Ya, pemeriksaan beberapa infeksi seperti sifilis, HIV, hepatitis B, dan hepatitis C direkomendasikan pada awal kehamilan. Pemeriksaan tambahan atau pemeriksaan ulang dapat diperlukan berdasarkan kondisi dan faktor risiko.
Apakah pemeriksaan IMS hanya menggunakan darah?
Tidak. Pemeriksaan dapat menggunakan darah, urine, maupun swab dari lokasi tertentu seperti vagina, tenggorokan, atau rektum, tergantung jenis infeksi dan kondisi pasien.
Apakah pemeriksaan HIV perlu dilakukan meskipun tidak ada gejala?
Pemeriksaan HIV dapat dilakukan meskipun tidak ada gejala. CDC merekomendasikan setiap orang berusia 13–64 tahun melakukan tes HIV setidaknya satu kali, dengan pemeriksaan lebih sering bagi orang yang memiliki faktor risiko tertentu.
Berapa kali dalam setahun pemeriksaan IMS perlu dilakukan?
Tidak ada frekuensi yang sama untuk semua orang. Beberapa orang mungkin membutuhkan pemeriksaan tahunan, sedangkan kelompok dengan risiko lebih tinggi dapat membutuhkan pemeriksaan lebih sering. Rekomendasi ditentukan berdasarkan usia, riwayat seksual, praktik seksual, kehamilan, dan faktor risiko.
Kesimpulan
Pemeriksaan infeksi menular seksual tidak harus menunggu sampai muncul gejala. Pemeriksaan dapat dipertimbangkan ketika terdapat keluhan, setelah kemungkinan paparan berisiko, ketika pasangan diketahui mengalami IMS, saat memiliki faktor risiko tertentu, atau selama kehamilan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Hal yang penting untuk dipahami adalah bahwa banyak IMS tidak menimbulkan gejala, sehingga merasa sehat tidak selalu berarti terbebas dari infeksi.
Jenis dan waktu pemeriksaan tidak sama untuk setiap orang. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan pemeriksaan yang sesuai berdasarkan kondisi dan riwayat Anda.
Jika Anda berada di Semarang dan memiliki kekhawatiran mengenai infeksi menular seksual, Klinik Alunan Bunda dapat dihubungi melalui WhatsApp 0821-6444-2190 untuk mendapatkan informasi mengenai konsultasi dan layanan yang tersedia.